Uncategorized

Yang Terutama

Familiar dengan kejadian di bawah ini?

Pergi ke mall, tujuannya mau belanja bulanan dalam list, tapi berakhir dengan kalap lihat pakaian yang disukai sedang dapat diskon.

Niatnya mau kerja tugas akhir. Waktu terima notifikasi sosmed, berujung di berjam-jam browsing update-an sosmed dan tugas akhirnya sama sekali tidak dikerjain.

Niatnya kerja kelompok di kafe, tapi waktu kumpul sama teman-teman 20% bahas kerjaan dan 80% ngomong tanpa arah.

Nyambung ke wifi kantor niatnya ngurus kerjaan tapi berakhir dengan streaming berjam-jam dari video tutorial sampai video klip artis kesukaan.

 

Beberapa kejadian diatas pernah saya alami secara pribadi. Saya yakin dari antara kamu yang baca tulisan ini pun pernah mengalaminya. Kita, manusia, punya satu kecenderungan. Tidak mengerjakan hal yang terutama yang harus dikerjakan. Alasannya sederhana: masih ada waktu, belum kena deadline, belum ditagih sama bos. Kata singkatnya: ditunda.

Dalam jangka waktu pendek sih tidak begitu signifikan. Tapi ketika lama kelamaan hal yang utama itu ditumpuk dengan hal-hal lain, kamu bakal kelabakan di kemudian hari. Kelabakan ini juga ada berbagai macam perwujudannya. Dari harus lembur kerja ketika seluruh rumah sudah pulas, atau malah beberapa hari jam tidur jadi ternganggu karna harus dikerjakan berhari-hari.

Yang utama adalah menjaga yang utama tetap menjadi yang utama. Kerjakan dulu yang harus dikerjakan sebagai utama atau prioritas. Baru deh pritilannya yang lainnya menyusul. Ketika yang utama tetap menjadi yang utama diselesaikan, kamu sedang menyelamatkan dirimu dari ketidak efektif yang bisa saja membuat waktumu terkuras.

 

Facebook Comments Box

Leave a Reply