Tabur & Tuai

Rumah saya di Jayapura hanya dipisahkan dengan talut dan got besar sebelum jalan raya. Disepanjang talut itu ada lahan kosong yang hanya ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar. Tidak terurus deh pokoknya. Biasanya pas Cuma mau menjelang 17an atau natal baru deh ada pembabatan oleh anak-anak kompleks. Beberapa mama Papua yang melihat peluang bercocok tanam menggunakan lahan ini akhirnya mulai untuk membuka kebun kecil. Saya kagum Saya kagum melihat proses mereka bekerja.
Pertama-tama setiap rumput liar akan dibersihkan. Bayangin kalau areanya beberapa hektar. Berapa lama waktu yang diperlukana untuk membersihkannya. Mereka menggunakan cara tradisional alias pakai tangan kosong. Jadi jangan bayangin ada mesin modern seperti alat pembabat rumput yang tinggal sekali digerakkan langsung bisa membersihkan lahan tersebut dalam hitungan menit. Rumput-rumput yang dibersihkan adalah rumput liar. Dengan kata lain tumbuhan yang memiliki jenis akar serabut. So, cara efektif untuk membersihkannya adalah dengan dicabut secara manual.
Berikutnya adalah menggemburkan tanah yang sudah dibersihkan. Dengan modal sekop, tanah mulai digali dangkal dan digemburkan untuk selanjutnya bisa ditanami dengan berbagai bibit tanaman yang diinginkan.

Belum sampai disitu. Ketika benih ditaburkan dan tumbuh menjadi tanaman, ada tantangan lain yang harus dihadapi. Pencuri. Biasanya waktu pohon pisang sudah menguning dan menunduk, pasti deh malam atau siang ada saja orang usil yang mencoba untuk mencuri tanaman-tanaman tersebut dari mama-mama Papua yang telah menanamnya.
Biasanya tanaman yang ditanam didepan rumahku oleh mama-mama Papua adalah ubi jalar, pisang, rica dan singkong. Hasil panen ini mereka bawa ke pasar lokal untuk kemudian dijual dan menjadi pemasukan untuk mereka.
Secara tidak langsung, mereka melakukan beberapa hal sekaligus yaitu memelihara area tersebut sehingga tidak ditumbuhi tanaman liar dan tidak dijadikan sarang pencuri bersembunyi.
Ketika ngomong tentang topik ini (tabur dan tuai), saya jadi ingat tentang mama-mama Papua yang berkebun di depan rumah saya ini. Bila dikaitkan dengan tabur dan tuai:
Ketika benih itu ditabur, dia jadi begitu rapuh. Bisa dimakan hama dan terbawa air. Kita masih harus menjaganya, menyiraminya, menggemburkan tanah di sekelilingnya agar benih itu bisa tumbuh dengan baik. Setelah jadi tunas dan bertumbuh tinggi, masih ada resiko untuk dicuri atau kena bencana alam. So many!
Hal yang pasti tentang menabur: selalu dibutuhkan tenaga dan keringat untuk melakukannya. Ada pengorbanan yang harus kamu lakukan. Entah itu waktu, pilihan ataupun keinginan pribadi. Singkatnya, menabur itu ga cuman lempar benih terus ninggalin begitu saja terus jadi sesuatu yang kita ingingkan.

Tapi waktu menuai tiba, kamu akan menikmati betapa manisnya sebuah pengorbanan, betapa indahnya sebuah penantian, betapa puasnya menjaga sebuah benih hingga berubah menjadi buah yang bisa dinikmati.
Sama halnya dalam menabur kebaikan dalam hidup ini. Kadang ketika menabur, kita tidak melihat langsung dampak dari apa yang kita tabur. Tapi ketika berjalannya waktu, benih-benih kebaikan itu akan bersemi menjadi buah yang memberkati orang-orang yang mendapatkannya.
Menabur dan menuai juga mengingatkan bahwa bila apa yang kamu tabur adalah apa yang kamu tuai, masakan kamu mau terus melakukan hal yang buruk namun pengen punya hal yang baik? Tidak mungkin kan yang kamu tanam pepaya lalu kamu mengharapkan yang muncul adalah nenas. Bila kamu ingin memiliki pendamping hidup yang setia, mulailah mejadi pria yang setia. Bila ingin mencapai kesuksesan dalam studi dan karir, berarti memang kita harus mengorbankan waktu free kita yang awalnya hanya untuk streaming film menjadi waktu untuk belajar skill yang baru atau membaca buku.
Waktu menaburmu terasa begitu panjang? Jangan khawatir! Jangan berhenti menabur dan menanam bila musim menaburmu begitu panjang. Karna dibalik itu, ada masa penuaian yang penuh sukacita.


