Asal-Asalan

Hidup itu berharga dan tidak ada satu orang pun yang diciptakan sama denganmu. Bahkan saudara yang kembar pun punya perbedaan karakter dan kepribadian. Saking berharganya, kadang kita anggap hal yang itu sudah biasa. Dapat nilai bagus, sudah biasa. Padahal orang lain diluar sana mau mati-matian dapat hal yang bisa kamu dapatkan. Punya pekerjaan yang buat lembur hingga larut malam, sudah biasa. Padahal ada orang diluar sana yang bakal habis-habisan mau gantiin posisimu untuk nikmatin semua fasilitas yang kamu dapatkan. Punya kedua orang tua yang masih ada, sudah biasa. Padahal banyak orang diluar sana yang rela bayar berapapun untuk bisa ngulangin waktu untuk bisa menghormati kedua orang tuanya atau untuk ngerasain kasih sayang orang tua. Kita cenderung seperti itu.
Karna merasa semuanya sudah biasa, kita lupa. Lupa bahwa seharusnya hidup ini diisi dengan berbagai buah kebaikan yang manis. Diisi dengan kerendahan hati, jiwa kemanusiaan, kasih antar sesama, hati yang mau mengampuni, dan masih banyak hal-hal positif yang bisa kamu tambahkan sendiri. Akibatnya kita jadi asal-asalan menghidupi hidup kita. Cuma memilih apa yang enak di hati, apa yang membawa kenikmatan sesaat (in another cases, nikmat sementara susahnya bertahun-tahun).
Kita jadi asal-asalan menggunakan waktu 24 jam kita. Bangun seenaknya, bermain sosmed hingga lupa waktu, kita lupa apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak begitu penting untuk dikerjakan. Harusnya kerja skripsi.tesis, malah main dota berhari-berhari. Harusnya kerjain tugas kelompok, malah jalan-jalan sama teman ke luar kota.
Kita asal-asalan memilih teman yang masuk dalam lingkarang kepercayaan kita. Akhirnya kita pun terpengaruh untuk mengikuti hal yang tidak baik alias “ngikut arus”. Sudah tahu sex sebelum nikah itu bakal ngerusak dirimu, tapi juga tetap dilakukan karna pengaruh media dan pergaulan. Baru putus, sudah lompat ke pasangan yang lain padahal luka hati belum dibereskan. Alhasil, jadi kayak “piala bergilir”. Hati-hati lho.
Kita jadi asal-asalan memilih pasangan hidup. Yang penting ada pacar, biar tidak dikatain “nggak laku”. Jadi lebih penting mendengar omongannya orang daripada berproses untuk menunggu hal yang baik dari Tuhan.
Kita jadi asal-asalan merencanakan hidup kita. Seolah-olah kita ini satu-satunya yang punya hidup, yang menentukan kita bakal mati usia berapa. Hei, hidupmu masih ada sampai detik ini karna ada tujuan ilahi. Kamu diciptain di dunia dengan satu misi khusus dan misi itu hanya bisa dikerjakan oleh kamu. Sudahkah kamu mengetahui misi apakah yang diletakkan dalam hidupmu?

Kamu, kita, tidak akan asal-asalan memperlakukan hidup kita bila kita sadar bahwa hidup kita tiap detiknya, tiap harinya, tiap saatnya begitu berharga. Orang mati aja mati-matian pengen hidup biar bisa ngubah ini itu, eeh kamu yang hidup malam pengen asal-asalan.

