Places travel traveler

Terbang Dadakan Melintasi Papua: Menjelajah Nabire, Serui, hingga Biak dengan Pesawat Khusus

Pagi itu, saya tidak pernah membayangkan akan terbang meninggalkan Jayapura.

Kabar tentang perjalanan tersebut datang hanya beberapa jam sebelum keberangkatan. Saya bahkan hanya memiliki waktu sekitar satu jam untuk mengepak pakaian dan menyiapkan barang-barang yang diperlukan. Tidak ada rencana perjalanan panjang, tidak ada daftar barang yang disusun sejak malam, dan tentu saja tidak ada waktu untuk berpikir terlalu lama.

Beberapa hari kosong yang awalnya ingin saya gunakan untuk beristirahat mendadak berubah menjadi sebuah petualangan.

Tujuannya adalah Biak. Namun, perjalanan kali ini tidak menggunakan pesawat komersial seperti yang biasa saya naiki. Saya mendapat kesempatan terbang menggunakan pesawat khusus dengan rute Jayapura–Nabire–Serui–Biak.

Kapten yang menerbangkan pesawat hari itu juga bukan orang asing. Ia adalah teman saya sendiri, Kapten Rauda. Kenyataan itu membuat perjalanan terasa semakin istimewa.

Biasanya, penerbangan langsung dari Jayapura menuju Biak hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam. Namun, melalui rute ini, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam.

Anehnya, saya tidak keberatan.

Justru perjalanan yang lebih panjang itulah yang membuat saya bersemangat. Ada satu tempat yang selama ini hanya sering saya dengar namanya, tetapi belum pernah saya lihat secara langsung: Serui.

Menyaksikan Nabire dari Udara

Cuaca pagi itu sangat cerah. Tidak ada turbulensi berarti yang mengganggu perjalanan. Dari balik jendela pesawat, daratan Papua terbentang luas di bawah saya.

Memasuki wilayah Nabire, perhatian saya tertuju pada sebuah sungai yang tampak meliuk-liuk seperti ular. Saya tidak mengetahui namanya, tetapi bentuknya terlihat begitu indah dari udara—membelah hamparan hijau dan mengalir mengikuti lekuk alam.

Dari ketinggian, Nabire terlihat cukup datar. Kawasan perkotaannya tampak tersusun rapi, dikelilingi bentang alam yang luas. Sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah, kota ini terus berkembang dan menjadi salah satu pusat pergerakan masyarakat di wilayah tersebut.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi Nabire. Namun, melihatnya dari udara menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Ada banyak hal yang terkadang luput ketika kita hanya berjalan di darat.

Pesawat kami mendarat sebentar di Nabire, tetapi saya tidak turun. Waktu singgahnya sangat singkat. Sejumlah barang diturunkan dan dimuat kembali, lalu pintu pesawat ditutup.

Belum sempat menikmati suasana, kami sudah harus terbang lagi.

Rasanya seperti belum sempat move on, tetapi sudah disuruh melanjutkan perjalanan.

Memilih Perjalanan yang Lebih Panjang

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya bersedia menghabiskan waktu sekitar tiga jam jika tersedia penerbangan langsung ke Biak yang jauh lebih cepat?

Jawabannya sederhana: karena saya ingin melihat sesuatu yang belum pernah saya lihat.

Perjalanan tidak selalu tentang seberapa cepat kita tiba di tujuan. Kadang-kadang, perjalanan justru menjadi berharga karena tempat-tempat yang kita lewati, orang-orang yang kita temui, dan pengalaman baru yang tidak pernah masuk dalam rencana.

Dari Nabire, pesawat melanjutkan penerbangan menuju Serui. Waktu tempuhnya tidak terlalu lama, sekitar 20 sampai 30 menit. Perlahan-lahan, garis pantai dan daratan Kepulauan Yapen mulai terlihat.

Saya langsung terpukau.

Wilayah pesisir Papua selalu memiliki daya tariknya sendiri. Setiap daerah mempunyai topografi, bentuk pantai, relief, dan susunan alam yang berbeda. Karena itu, saya merasa sulit membandingkan mana yang lebih indah. Setiap tempat mempunyai keistimewaannya sendiri.

Dari udara, Serui terlihat hijau. Hutan masih tampak lebat di sejumlah bagian, sementara garis pantainya membentuk pemandangan yang indah. Di antara hamparan hijau itu, kawasan permukiman dan perkotaan mulai terlihat.

Pemandangan tersebut membuat rasa penasaran saya semakin besar.

Pertama Kali Menginjakkan Kaki di Serui

Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Stevanus Rumbewas. Bandara yang melayani Kota Serui itu tidak terlalu besar. Bangunan terminalnya memiliki atap melengkung yang membuatnya terlihat unik dari tempat saya duduk.

Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Serui—meskipun hanya sebentar di kawasan bandara.

Selama ini saya sering mendengar Serui disebut sebagai “tanah pecek”. Ada yang mengatakan sebutan itu berkaitan dengan kondisi beberapa wilayahnya yang berlumpur. Namun, saya sendiri belum mengetahui pasti asal-usul penyebutan tersebut.

Satu hal yang saya tahu, pemandangan Serui dari udara membuat saya ingin kembali.

Saya ingin berjalan lebih jauh, bertemu masyarakatnya, mencicipi makanannya, dan melihat langsung kekayaan alam yang hanya sempat saya saksikan dari balik jendela pesawat. Garis pantai, hutan, laut, dan pulau-pulau di sekitarnya seolah menyimpan cerita yang belum selesai saya baca.

Persinggahan kami di Serui juga berlangsung singkat. Barang-barang kembali diturunkan, sejumlah penumpang naik, lalu pintu pesawat ditutup.

Dalam penerbangan khusus seperti ini, semuanya bergerak dengan cepat. Tidak ada pelayanan makanan seperti di pesawat komersial. Karena itu, penumpang sebaiknya membawa makanan sendiri dan pergi ke toilet sebelum keberangkatan. Waktu singgah yang pendek tidak selalu memungkinkan kita turun dengan santai.

Namun, justru suasana sederhana itu menghadirkan pengalaman berbeda. Saya dapat melihat bagaimana pesawat tidak hanya mengangkut manusia, tetapi juga membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat di berbagai daerah.

Di Papua, pesawat bukan semata-mata alat transportasi. Bagi banyak wilayah, pesawat adalah penghubung kehidupan.

Jarak yang Dekat, Akses yang Belum Selalu Mudah

Penerbangan dari Serui menuju Biak ternyata sangat singkat. Belum sampai 15 menit setelah lepas landas, daratan Biak sudah kembali terlihat.

Saya baru menyadari bahwa jarak kedua wilayah tersebut sebenarnya begitu dekat jika ditempuh melalui udara. Namun, kedekatan geografis tidak selalu berarti kemudahan akses.

Ketika saya membagikan perjalanan ini melalui media sosial, beberapa orang bertanya apakah sudah tersedia penerbangan menuju Serui. Banyak masyarakat selama ini masih mengandalkan kapal laut untuk bepergian keluar dan masuk Kepulauan Yapen.

Saya berharap ke depan Serui memiliki akses penerbangan yang semakin rutin, berkelanjutan, dan dapat digunakan oleh masyarakat. Tentu saya memahami bahwa pengoperasian sebuah rute penerbangan berkaitan dengan jumlah penumpang, biaya operasional, ketersediaan pesawat, dan berbagai pertimbangan lainnya.

Namun, bagi masyarakat kepulauan, akses transportasi bukan sekadar urusan berpindah tempat. Akses menentukan seberapa cepat seseorang mendapatkan pelayanan kesehatan, melanjutkan pendidikan, menggerakkan ekonomi, atau bertemu kembali dengan keluarganya.

Tiba di Biak dengan Cerita Baru

Kami akhirnya mendarat di Biak. Pesawat tidak menuju terminal komersial, melainkan masuk ke kawasan pangkalan udara dan berhenti di dekat hanggar.

Saya terkejut melihat kawasan tersebut ternyata begitu besar dan luas. Selama ini, setiap tiba di Biak menggunakan pesawat komersial, saya hanya mengenal bagian terminal penumpang. Perjalanan kali ini membawa saya melihat sisi lain kawasan penerbangan yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan.

Setelah sekitar tiga jam di udara, perjalanan dadakan itu akhirnya selesai.

Saya berangkat hanya dengan waktu persiapan sekitar satu jam. Saya tidak memiliki rencana yang tersusun rapi. Namun, dalam perjalanan singkat itu, saya melihat Nabire dari udara, menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Serui, menyaksikan keindahan pesisir Papua, dan memahami kembali betapa pentingnya konektivitas bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa hal-hal yang datang secara tiba-tiba terkadang membawa kejutan paling berkesan.

Jika pagi itu saya terlalu banyak mempertimbangkan, mungkin saya akan memilih tetap tinggal di Jayapura. Saya tidak akan melihat sungai yang meliuk di Nabire, hijaunya daratan Serui, atau menyadari betapa dekatnya Kepulauan Yapen dengan Biak.

Saya berangkat untuk mengisi waktu libur. Namun, saya tiba di Biak dengan cerita baru—tentang langit Papua, daerah-daerah yang saling terhubung, dan perjalanan sederhana yang membuat saya kembali jatuh cinta kepada tanah ini.

This error message is only visible to WordPress admins

Unable to retrieve new videos without an API key.

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

Facebook Comments Box

Leave a Reply