book & movie self development

Review Buku Tarian Bumi Karya Oka Rusmini

Wajah Bali & Perempuan

Setiap karya Oka Rusmini bagi saya adalah obat ketika rindu akan kehidupan di Bali. Tidak hanya Bali yang sebatas eksotik, indah, murah, penuh gemerlap tapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat lokalnya seperti bergosip, ibadah, kasta, dinamika sosial serta spiritual.  Bila novelis Inggris, Graham Greene, merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis R.K. Narayan, maka tak berlebihan jika kita pun merasa telah menemukan Bali yang sebenarnya melalui novel ini. Dalam Tarian Bumi, Oka Rusmini secara jujur melihat ke dalma budayanya sendiri: bagaimana posisi perempuan dalam budaya bali.

Bila anda selama ini hanya melihat bali sebagai destinasi pariwisata nan eksotik, cobalah melihat lebih jujur wajah bali yang sebenarnya dalam novel ini. Ada beberapa kutipan menarik yang mungkin menggugah seleramu untuk membaca buku ini:

“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”

“Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu?” 

“Apa arti cinta, Luh. Aku hanya memerlukan hidup layak, hidup terhormat!”
“Kau juga memerlukan kasih sayang. Jangan samakan dirimu dengan benda-benda mati!” Suara Kenten penuh amarah.
“Hidup telah mengajari aku jadi batu.”
“Kau pernah bertanya pada batu? Betapa menyakitkan menjadi batu!”
“Siapa yang mengatakan itu padamu? Apa batu pernah mengeluh padamu?”
Luh Kenten diam.
“Aku tidak akan pernah bermimpi sepertimu.”
“Berarti kau benda mati. Manusia hidup memiliki keinginan, memiliki mimpi. Itulah yang menandakan manusia itu hidup. Batu juga memiliki keinginan. Dalam kediamannya dia mengandung seluruh rahasia kehidupan ini.”
“Hidupku bukan hidupmu. Aku tidak suka bermimpi.”

Tarian Bumi merekam kisah hidup para perempuan Bali. Dari mereka yang lahir dan besar sebagai Brahmana, lahir sebagai Sudra & besar menjadi Brahmana, hingga seorang Brahmana yang berakhir sebagai Sudra. Semuanya punya kompleksitasnya sendiri. Membuat decak, “Enaknya hidup sebagai titisan Dewa” hilang seketika. Meminjam sebuah frasa Jawa, “Urip mung sawang sinawang.” Alias, hidup manusia siapa yang tahu. Permainan praduga tidak akan ada ujungnya. Yang Brahmana berharap hidup bisa sesantai Sudra. Yang Sudra, berharap bisa berada setara dengan Brahmana.

Membaca Tarian Bumi membawaku pada khazanah yang baru. Jika selama ini Bali terlihat sebatas destinasi pelesir untuk orang Jawa, kisah Telaga mengantarkanku pada peliknya hidup sebagai perempuan Bali. Bahwa Bali juga punya budaya & adat yang… masih memandang perempuan sebagai warga kelas dua.

Betapa indah sekaligus repotnya menjadi perempuan Bali. Mereka sungguh penuh akan taksu, penuh daya pikat yang entah mengapa sampai sekarang masih bisa saya lihat dan rasakan (apalagi ketika sedang bersama mama dan masyarakat di kampung halaman). Mereka kuat dan tangguh. Maka dari itulah, para Dewata menjadikannya makhluk yang dihadapkan dengan beragam problema. Dibandingkan para laki-laki Bali, mereka sangat sulit untuk menentukan pilihan-pilihannya sendiri: karena kasta, karena adat, karena agama, karena keluarga, karena sistem patriarkat. Untuk bertata laku saja sudah dikekang oleh beragam hal, apalagi untuk urusan memilih teman hidup dan menikah. Semuanya harus sesuai pakem, tidak boleh ada yang keluar haluan. Akan tetapi, para perempuan dalam novel ini, Pidada, Kenanga, Telaga, dan tokoh-tokoh perempuan lainnya membuat saya sadar, bahwa masih ada kesempatan untuk memberontak; masih ada kesempatan untuk hidup atas jalan yang telah kita pilih sendiri.

Pada akhirnya buku ini sungguh membantu saya belajar untuk memahami gelar Bali yang diberikan kepada saya: Ida Ayu Jeni Karay. 

Facebook Comments Box

2 Comments

  1. Tika

    March 9, 2022 at 8:49 am

    Saya pernah coba baca buku ini, menurutku memang ceritanya bagus tapi cukup berat pembahasannya jadi waktu itu sedang itu mood untuk baca yang berat malah jadinya kepending dan belum dilannjut sama sekali sampe sekarang. Memang sepertinya buku ini benar-benar mengulik sisi budaya lain dari Bali ya. Terima kasih untuk reviewnya 🙂

  2. Fanny_dcatqueen

    March 17, 2022 at 10:07 am

    Belum baca bukunya mba, tapi menarik sih. Walau feelingku agak berat Yaa 🤭? Dari dulu aku suka dengan budaya Bali yang kental dengan adat istiadat. Keramahan mereka, budaya dan karakter orang-orangnya. Kalo biasanya aku selalu berhati2 menghadapi orang kelewat ramah, tapi beda rasanya saat berhadapan dengan keramahan orang Bali. Terlihat tulus. Itu yg ga akan bikin bosan utk kembali ke Bali 🙂

Leave a Reply