book & movie self development

Review Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam Karya Dian Purnomo

Hati-hati! Ada trigger warningnya!

cover buku Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam

Buku yang menarik dari covernya. Di bagian kiri bawahnya sudah diberikan peringatan trigger warning. Dan benar saja. Buku ini sungguh menguras emosi ketika membacanya. Perempuan yang Menangis Kepada Bukan Hitam merupakan cerita yang disadur dari salah satu kebudayaan Sumba yaitu kawin tangkap atau bahasa lokalnya Yappa Mawine. Secara sederhana kawin tangkap ini adalah perkawinan paksa yang hanya diketahui oleh calon suami dan keluarga perempuan tanpa adanya konfirmasi dari si perempuannya. Apakah setuju dan mau dinikahkan atau tidak. Ketika Yappa Mawine ini terjadi, sepenuhnya pihak lelaki sudah memiliki hak untuk memperlakukan calon pengantin layaknya pengantin yang telah menikah. Budaya timur bilangnya nikah sah secara adat tapi belum nikah resmi di pencatatan sipil. Hingga sekarang kebudayaan tersebut masih tetap ada di beberapa area kampung di Sumba yang masih menjunjung budaya lokal.

Dian Purnomo begitu cerdas menuliskan novel ini sebagai bentuk kritik keras tentang nasib para perempuan yang menjadi korban kawin tangkap. Bagaimana tidak, perempuan bahkan tidak diberikan posisi untuk ikut mengambil keputusan tentang kehidupannya. Bagi teman-teman di luar Sumba yang membaca buku ini akan mengerti mengapa kawin tangkap menjadi budaya yang sungguh sangat merugikan perempuan. Lebih tepatnya pemaksaan. Bahwa setinggi apapun pendidikan perempuan, ia tetap dipandang hanya sebatas aset untuk mendapatkan mas kawin setinggi-tingginya.

Tokoh Magi Diela yang menjadi tokoh perempuan utama dalam novel ini begitu apik diceritakan. Berbagai adegan seperti pemerkosaan, adegan bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk tendangan, makian bahkan tonjokan menjadi adegan yang blak-blakan diceritakan dalam novel ini. Itulah mengapa peringatan trigger warning jelas-jelas diberikan di cover novel ini. Saya sempat harus mengambil jeda ketika membaca novel ini karna ikut merasakan kesedihan dari Magi Diela yang harus memilih nerakanya sendiri. Apakah ia harus menerima takdirnya sebagai wanita yang telah menjadi korban dan menerima lelaki yang telah semena-mena memperlakukannya hanya sebagai alat pemuas semata. Ataukah ia harus melawan budaya dan keluarganya dan berdiri menentukan takdirnya sendiri. Ending dalam novel ini bahagia. Pada akhirnya Magi Diela dapat memenjarakan lelaki yang menculiknya. Namun percayalah. Kebanyakan cerita di lapangan tidak berakhir sebahagia ini.Β 

Bagian yang sedikit menggelitik diri saya adalah ketika Magi Diela memberikan penyuluhan tentang hak perempuan dan KDRT kepada para kaumnya, wanita di kampung halamannya. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa dipukul adalah bentuk sayang pria kepada wanita yang mana saya temukan banyak juga di Papua ataupun Papua Barat. Bahkan ada juga para perempuan yang menganggap bahwa memang sudah selayaknya diperlakukan oleh lelaki seperti itu. Bahwa mereka memang tidak punya hak untuk menolak ataupun melawan. Hal ini juga marak di area Timur Indonesia. Bahwa memang sebagai perempuan kita masih memiliki banyak tugas untuk mendidik para wanita lain tentang apa yang menjadi hak mereka dalam kehidupan.Β 

Bagi saya, buku-buku bahkan dunia perfilman membutuhkan lebih banyak representasi perempuan yang bisa kuat berdiri melawan takdir dan ketidakadilan yang dihadapinya. Tokoh utama seperti Magi Diela yang dihadirkan Dian Purnomo dalam buku ini. Sudah saatnya perempuan digambarkan tidak hanya sebagai korban semata namun bisa merepresentasikan transformasi, ketangguhan bahkan kecerdasan.

Beberapa kutipan menarik dari buku ini:

Dua kali sa lolos dari maut. Tapi leluhur terus kasih sa pung air mata jatuh. Sampai kapan sa dan perempuan lain di sa pung tanah ini akan terus menangis.”

“π‘Ίπ’†π’Žπ’‚π’Œπ’Šπ’ π’…π’†π’Œπ’‚π’• π’”π’†π’”π’†π’π’“π’‚π’π’ˆ π’•π’Šπ’π’ˆπ’ˆπ’‚π’ π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’Šπ’•π’‚, 𝒋𝒖𝒔𝒕𝒓𝒖 π’”π’†π’“π’Šπ’π’ˆ π’Œπ’‚π’π’Š π’”π’†π’Žπ’‚π’Œπ’Šπ’ 𝒋𝒂𝒖𝒉 π’‰π’‚π’•π’Šπ’π’šπ’‚.”

Satu pertanyaan dari Magi Diela yang sekiranya merangkum cerita buku ini : “Sampai kapan saya dan perempuan lain di saya punya tanah ini akan terus menangis?” sebenarnya merupakan representasi tidak saja hanya di Sumba namun di seluruh Indonesia. Menjadi kritikan, masukan, saksi bahwa tidak selamanya budaya itu bagus. Ada yang perlu untuk dilestarikan dan tidak.Β 

Facebook Comments Box

2 Comments

  1. fanny_dcatqueen

    February 23, 2022 at 1:00 pm

    Hai mba jeni…. Duuuh seneeeng bangr kalo Nemu blog yg membahas buku2. Baca buku tentang tradisi di Sumba ini, beneran jadi pengen banget baca bukunya. Tadi aku coba cari di ipusnas, bukunya ada, tapi masih antriiiii πŸ˜…. Aku masuk waiting list deh.

    Menarik temanya. Krn memang kenyataan masih seperti itu. Aku jadi inget baru2 ini baca buku tentang tradisi di China saat masih era dinasti. Di mana perempuannya, wajib ikat telapak kakinya supaya tetep kecil dan bisa disunting Ama lelaki kaya, trus mereka dilarang untuk protes, menunjukkan perasaan sayang ke suami, dan wajib patuh. Bacanya miris banget :(. Bersyukur aku ga mengalami hal itu.

    1. jenikaray

      February 28, 2022 at 4:58 am

      Buku ini termasuk yang antreannya mayak kak di ipusnas, pasti kaka Fanny bakal dapat bagian buat baca bukunya dek. Itu sudah kak, banyak skali sebenarnya budaya di seluruh dunia dimana perempuan menjadi korban dan dilazimkan terjadi. Bagusnya di masa kini dengan makin meningkatnya teknologi dan meluasnya internet bisa membantu perlahan-lahan pengenalan tentang hak perempuan. Makasih kak Fanny sudah begitu baik hati mampir di blog ini πŸ™‚

Leave a Reply