Kota Belitung menjadi terkenal di nusantara ketika boomingnya Film Laskar Pelangi yang diangkat oleh Andrea Hirata. Tapi sebenarnya kota ini penuh dengan pesona alam dan budaya yang unik. Sebut saja Pulau Lengkuas, Danau Kaolin, Museum Kata, Pantai Tanjung Tinggi dan masih banyak lagi list destinasi wisata yang bisa saya berikan. Salah satu yang paling saya sukai adalah ketika pergi ngopi di KongDjie Coffee yang berlokasi di tengah kota belitung.
Setelah mengantar salah satu teman yang harus mengejar penerbangan pagi ke bandara, saya diantar oleh tourguide ke Kong Djie Coffee untuk sarapan pagi. Ketika beliau mengetahui betapa saya menyukai kopi, akhirnya pagi itu kami pergi. Jam di tangan saya baru menunjukkan pukul 6.30 pagi. Awalnya kupikir bakal tidak begitu ramai warung kopi pada umumnya di kota-kota besar. Ternyata warung kopi ini sudah begitu ramai dipadati oleh turis maupun masyarakat lokal yang ngopi sambil bercengkrama sebelum melanjutkan aktivitas pagi mereka. Pantesan saja Belitung disebut kota dengan 1001 kedai kopinya karna budaya ngopi sudah menjadi bagian dari rutinitas warna sebelum beraktivitas. Sepanjang jalan ketika tiba di kota ini juga begitu mudah menemukan kedai kopi dimana-mana.
Ketika masuk ke kedai ini rasanya seperti masuk ke dalam warung kopi tahun 1940an. Aroma khas perpaduan antara biji kopi arabica dan robusta menyeruak dari warung kopi ini. Poster iklan dengan ejaan indonesia lama yang masih terpampang, deretan bingkai foto usang yang entah berapa banyaknya mewarnai tembok di kiri dan kanan kedai dengan berbagai wajah publik figur dan tokoh masyarakat terkenal yang pernah bertandang ke warung kopi ini. Saya memilih kopi susu untuk menjadi teman menikmati cuaca yang sedang gerimis di Belitung. Ada dua pilihan kopi yang disajikan di tempat ini. Kopi O (kopi hitam) serta Kopi Susu (kopi hitam yang dialas oleh susu kental manis). Deretan camilan juga siap menjamu untuk menemani. Ada singkong goreng, pisang goreng coklat keju maupun rasa original, cake manis yang banyak variannya. Saya tidak sampai mengeluarkan uang 25 ribu untuk kenyang. Luar biasa!
Walau semakin banyak warung kopi mulai bermunculan, Kong Djie Coffee tetap eksis bahkan memiliki cabang dimana-mana. Kong Djie Coffee berdiri sejak tahun 1943 di Belitung. Berarti kedai kopi ini bahkan menjadi saksi bisu gejolak nusantara sebelum Indonesia merdeka, pertambangan timah yang jaya-jayanya waktu itu hingga sekarang. Pemiliknya kala itu bernama Ho Kong Djie, lelaki berdarah Tionghoa yang merupakan perantau asal Pulau Bangka. Nama Kong Djie sendiri berakar dari Bahasa Hakka. Kong artinya terang sedangkan Djie adalah nama untuk anak nomor dua. Bagi teman-teman yang tidak dapat menikmati kopi selama ini karena takut akan derajat keasaman, jangan khawatir. Racikan Kong Djie Coffee yang memadukan antara robusta dan arabika membuat derajat asam dalam sajian kopi mereka aman untuk dinikmati.
Bagi pecinta kopi seperti saya, berwisata ke Belitung menjadi lengkap karena bisa menikmati racikan kopi yang tetap dijaga kelestariannya sejak tahun 1943.Berasa masuk mesin waktu sebelum kembali dengan jadwal perjalanan yang menumpuk. Oh iya Kong Djie Coffee juga menyediakan kopi kemasan yang bisa dijadikan oleh-oleh buat teman-teman yang ingin membawanya. So, jangan lupa kalau ke Belitung, ngopi lah ke Kong Djie Coffee.