podcast

Episode 52 – Jika Aku Menjadi Korban

Bagaimana jika kitalah yang menjadi korban dari emosi orang lain yang meledak-ledak? Emosi yang meledak ini bisa dalam bentuk kekerasan secara fisik, verbal atau hal-hal tidak mengenakan yang ber-efek ke well being kita. Apakah kita memilih diam lalu menelan setiap kekerasan tersebut yang akhirnya mengerdilkan diri kita atau apakah kita memilih untuk melepas, membereskan dan sembuh dan keluar dari hal-hal yang menyakitkan itu?

Kali ini, di episode 52 Jeni Karay mau ngangkat cerita tentang Jika Aku Menjadi Korban.

Kalau di episode sebelum tong bahas tentang kitorang yang emosi meledak-ledak dan orang lain jadi korban. Tapi kalau situasinya kebalik: kitorang yang menjadi korban karna emosi orang yang meledak-ledak.

Kira-kira apa yang harus kitorang lakukan yah?

Episode ini tuh terinspirasi dari seorang teman yang saya temui 4 tahun lalu. Waktu saya lagi liburan ke Jayapura, saya ketemu sama teman saya ini. Dia perempuan yang mapan. Punya kedai, dari keluarga berada, tidak berkekurangan dan mandiri. Punya rumah pribadi dan kendaraan. Waktu saya ketemu dia, bibir sebelah kanannya pecah dan bengkak sampai membiru. Siku kirinya lecet, lututnya juga ada memar. Di bagian pelipisnya juga pecah dan masih tertutup perban. Waktu itu saya memang dengar kabar kalau dia pacaran dengan seorang pria yang juga saya kenal. Singkatnya dia cerita kalau pacarnya itu cemburu dan mereka mulai bertengkar. Si pria lalu melakukan kekerasan. Dan pria ini tipikal yang kalau sudah emosi, tidak ada kata maaf. Pokoknya harus dilampiaskan sampai puas. Mobil si cewek sampai dijadikan jaminan karna si cowok punya hutang sama orang lain.

3 tahun kemudian waktu sa balik ke Jayapura, sa secara tidak sengaja ketemu sama dia di de punya kedai. Trus sa tanya bagaimana kabar? Trus sa sebut de punya pacar pu nama. De langsung senyum bilang β€œah sa su trada hubungan sama dia sambil senyum bahagia. Tong su pisah tahun lalu. Sa terlalu buang-buang waktu buat dia.” Waktu de bilang begitu, sa macam langsung lega. Karna akhirnya de dapat hidayah alias revelation kalau memang dia layak untuk dapat yang lebih baik.

Dari kejadian itu sa belajar bahwa :

Tidak semua kekerasan itu akan berakhir dengan si pelaku bertobat.

Alasan klasik kenapa banyak yang tidak ingin keluar dari hubungan toxic karna merasa belum tentu dong akan ketemu yang lebih baik dan bisa menerima seutuhnya. Tidak mau untuk memulai kembali kenal orang dari 0 dan membangun brick by brick untuk punya relasi yang baru. Ada juga yang beranggapan bahwa pukul itu tanda sayang.

So, if one day, kita yang menjadi korban. Bagaimana yah caranya untuk bisa lepas dari kekerasan tersebut? Ikuti cerita lengkapnya di Podcas Cerita Seru Jeni Karay.

Facebook Comments Box

Leave a Reply