Tanah Papua memiliki beberapa destinasi ekowisata yang diminati wisatawan. Diantaranya adalah wisata pengamatan burung di Pegunungan Arfak dan Kampung Malagufuk, wisata bahari di Raja Ampat, wisata mangrove di Teluk Bintuni, wisata budaya dan pendakian gunung di Kaimana, wisata danau di Paniai, seni ukir di Asmat, festival Lembah Baliem di Jayawijaya, atau Teluk Sarawandori di Kepulauan Yapen. Ekowisata tersebut merupakan sumber kehidupan orang asli Papua (OAP) dan dengan mengelola ekowisata tersebut masyarakat dapat menjaga dan mempertahankan hak dan wilayahnya.
Yayasan Econusa sebagai organisasi nirlaba yang mendukung pengembangan ekowisata di Papua dan Papua Barat dalam mewujudkan prinsip pembangunan berkelanjutan, melihat perlunya penyebaran informasi ekowisata di Tanah Papua kepada anak muda khususnya yang memiliki hobi traveling . Bekerjasama dengan London School Institute, Yayasan Econusa menggagas diskusi online bertajuk “Tren Liburan Ekowisata setelah Covid-19” Diskusi ini diharapkan dapat membuka wawasan anak muda Indonesia, bahwa ekowisata tidak hanya dapat memanjakan mata tapi juga dapat berkontribusi terhadap konservasi alam dan ekonomi masyarakat lokal. Dan Tanah Papua memiliki segudang destinasi ekowisata yang tidak dimiliki oleh negara lain.
Yayasan EcoNusa bekerjasama dengan Mr & Ms LSPR, LSPR 4C, dan Bhamahira LSPR mengadakan webinar berjudul “Being an Eco Traveler, Responsible to Nature Through Ecotourism: Pentingnya Menjaga Keanekaragaman Hayati Tanah Papua Melalui Ekowisata ”dan mengajak para generasi muda untuk bijak saat berwisata serta mengenal lebih jauh tentang ekowisata dan praktik ekowisata di Tanah Papua.
Webinar menghadirkan narasumber:
– Arie S Suhandi, Founder of INDECON (Indonesian Ecotourism Network)
– Aloysius Numberi, Program Associate Pengelolaan SDA EcoNusa
Moderator:
Jeni Karay, Commodity Ambassador of Papua & West Papua