book & movie self development

Review Buku Kitab Kawin Karya Laksmi Pamuntjak

Fiksi oleh perempuan, tentang perempuan, untuk perempuan.

Asal mula akhirnya membaca buku ini adalah karena judulnya yang menarik. Kitab Kawin. Buku karangan Laksmi Pamuntjak ini adalah kumpulan cerita pendek tentang perempuan dari berbagai latar belakang yang berbeda. Kita akan bertemu dengan perempuan  pekerja toserba, karyawan, seniman paruh baya, instruktur yoga, hingga ibu-ibu borju. Dengan ragamnya latar belakang tersebut, permasalahan yang dihadapi juga berbeda-beda. Disinilah serunya buku ini. Beragam masalah dihadapi oleh mereka, ada yang selingkuh sebab suaminya dingin di tempat tidur, sampai yang pacaran sana-sini karena suaminya berpoligami. Dari yang mati-matian mencintai istri abangnya, sampai yang naksir menantunya sendiri. Ada yang disodor-sodorkan ke laki-laki lain oleh suaminya demi kepuasan sang suami, dan ada pula yang dihajar oleh suaminya di hadapan orang banyak. Dari rumah-rumah kelas menengah atas Jakarta, kota kecil di daerah pedesaan Jawa Tengah, atau pedalaman Pulau Buru, kitab-kitab ini tak saja berkisah tentang jiwa-jiwa yang buncah, kesepian dan telantar, serta tubuh-tubuh yang terpasung dan disakiti, tapi juga tentang jiwa-jiwa yang berontak dan merdeka, dan yang berani merumuskan ulang hukum-hukum perkawinan bagi diri mereka sendiri. Totalnya ada 12 kitab atau 12 cerita berbeda yang bisa teman-teman nikmati dalam buku ini.

Bukan hanya seru belaka namun sebenarnya buku ini juga mengajak kita melihat lebih dalam tentang problematika perempuan dari berbagai dimensi dan kehidupannya. Tentang pernikahan paksa, pemerkosaan, perselingkuhan, trauma, belenggu, dendam, dan berbagai bentuk emosi lainnya. Masing-masing tokoh memiliki latar belakang (termasuk orientasi seks) yang berbeda dan semuanya terasa hidup. Bagi saya Laksmi Pamuntjak sukses menghidupkan berbagai karakter dalam buku ini sehingga kita yang membacanya juga terjun merasakan emosi dan bagaimana akhirnya masing-masing perempuan dalam kitab ini mengambil keputusannya masing-masing untuk menghadapi permasalahan mereka. Seperti biasa, tulisan Mbak Laksmi selalu cantik dan dipenuhi warna-warna serta perumpamaan lain yang ajaib banget kalau dibayangkan. Laksmi Pamuntjak tidak hanya aktif dalam dunia seni rupa, namun juga aktif dalam dunia jurnalistik dan kepenulisan. Beberapa novelnya termasuk lima besar Kusala Sastra Katulistiwa serta diterbitkan di luar negeri dengan bahasa asing. Bahkan novelnya yang berjudul “Aruna dan Lidahnya” difilmkan dan menyabet beberapa penghargaan pada FFI 2018.⁣⁣⁣

Beberapa kutipan yang paling kusukai dari buku ini:

“Aku mencoba mendidik diriku untuk tidak terlalu curiga pada kehidupan. Apabila hidup pernah melukaiku, bukan berarti tak ada tempat-tempat yang baik hati di dunia, yang tidak menistai dan malah memberi suaka bagi kaum perempuan. Meski aku pernah dizalimi laki-laki brengsek, bukan berarti semua laki-laki di dunia ini berengsek.”

Bagian kesukaan saya adalah kitab #12 yang berjudul Surat Cinta Menjelang Kawin:

Aku bukan dewi. Aku masih punya balur-balur masa lalu yang mengingatkanku bahwa aku bukan tipe istri yang didambakan ibu para lelaki lajang, dan bukan tipe anak yang meskipun berprestasi tak bisa menghapus dosa-dosanya di mata orang tuanya.

Sebenarnya bagian terakhir atau kitab #12 ini tidak ada di edisi awalnya. kitab #12 ini muncul di pembaharuan cover di tahun 2021. Membaca kita #12 ini seperti membaca tulisan surat dari penulis kepada suaminya. 

Pada akhirnya sama seperti namanya Kitab Kawin, ditengah ramainya tokoh, latar belakang dan konflik yang dihadirkan, semuanya memiliki satu benang merah yang sama yaitu tentang perempuan dan perkawinan. Bagi saya diperlukan banyak buku fiksi dan feminis seperti ini untuk mempelajari tentang dunia perempuan dari berbagai sisi. Apalagi bagi para wanita yang mengira bahwa dunia perkawinan adalah dunia yang hanya dipenuhi dengan kebahagiaan tanpa ada konflik batin untuk perempuan belajar lepas menjadi dirinya sendiri. Buku ini bisa teman-teman temukan di toko buku terdekat ataupun menikmatinya secara digital di gramedia digital.

 

Facebook Comments Box

2 Comments

  1. Erna

    February 23, 2022 at 5:32 am

    Terima kasih reviewnya, setidaknya saya jadi tahu apa isi cerita yang ingin disampaikan oleh pengarangnya.

    1. jenikaray

      February 28, 2022 at 4:25 am

      Masama Kak Erna, terima kasih sudah jalan-jalan kesini 🙂

Leave a Reply