Mengapa
Ketika malapetaka menimpa, kita cenderung untuk bertanya “kenapa” dibanding dengan pertanyaan lain seperti apa, siapa, mengapa. Kenapa slalu jadi pertanyaan awal yang membuka pertanyaan lain. Kenapa juga bukanlah pertanyaan yang hanya sekali ditanyakan. Selalu ada kata-kata kenapa lainnya yang akan mengikutinya. Intinya, bila bertanya tentang kenapa, tidak akan pernah ada habis-habisnya.
Intinya, bila bertanya tentang kenapa, tidak akan pernah ada habis-habisnya.
Kadang pertanyaan kenapa tidak dapat kita temukan dalam waktu yang singkat. Beberapa pertanyaan mengapa yang pernah saya ajukan dalam hidup ini butuh bertahun-tahun hingga saya akhirnya paham apa missing link atau jawaban dari kenapa suatu kejadian pernah menimpa kehidupan saya. Ujung-ujung saya bersyukur bahwa dibalik air mata, rasa sakit, kehilangan, semua hal tersebut terjadi semata-mata untuk kebaikan saya. Benar banget kata alkitab bahwa Tuhan jauh mengetahui apa yang terbaik buat dirimu daripada semua pemikiran terbaik menurut versi dirimu sendiri.
Benar banget kata alkitab bahwa Tuhan jauh mengetahui apa yang terbaik buat dirimu daripada semua pemikiran terbaik menurut versi dirimu sendiri.
Hidup pun penuh dengan pertanyaan dan pertanyaan yang tidak akan pernah selesai dipertanyakan. Tapi daripada menjawab pertanyaan mengapa, proses yang dialami seseorang lebih penting. Itulah kenapa ketika sesuatu menimpamu, yang muncul pertama adalah proses, bukan jawaban dari kata kenapa yang kamu ucapkan. Selalu ada karakter keras yang dilembutkan, hati yang jauh yang didekatkan, pertengkaran yang didamaikan dalam proses. Itulah mengapa daripada menjawab pertanyaan, proses adalah hal utama yang dilihat.

Akankah kita masih tetap memuliakan namaNya ketika hal yang tidak diprediksikan dalam hidup ini terjadi. Akankah kita masih memiliki hati yang bersyukur ketika apa yang paling berharga dalam hidup kita diambil. Akankah masih kuat kita menyebut namanya ketika tertindas dan hanya tantangan serta rintangan yang ada di hadapan kita.
Salah satu adek saya, Echa Sagrim (teman-teman bisa bertemunya di akun Ignya: @chaecha_) berbagi kisahnya dalam blog pribadinya yang bisa teman-teman akses disini. Echa bagi saya adalah salah satu contoh nyata bagaimana ditengah semua pertanyaan “kenapa” masih tetap percaya kedaulatan Allah lebih mengetahui hal yang terbaik ketika hal yang terbaik dalam hidupnya diambil.

