Webinar Live On Zoom “Being An Eco Traveler”

July 19, 2020 jenikaray 0 Comments

Kembali lagi kepada anak muda. setelah pandemik ini merekalah yang memegang peranan penting.

Dunia pariwisata di Indonesia mengenal pariwisata alam atau ekowisata sebagai salah satu dari tiga ‘mesin’ utama yang diproyeksikan untuk menghasilkan devisa. Selain itu ekowisata juga merupakan cara masyarakat untuk mendapatkan insentif dari menjaga alam dan keanekaragaman hayati didalamnya.

Bukan hanya berwisata di alam, prinsip yang diusung ekowisata harus memiliki beberapa manfaat seperti konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, menghormati kepercayaan masyarakat setempat, dan pendidikan lingkungan. Hal-hal tersebut yang membedakan ekowisata dengan wisata alam pada umumnya.

Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat melalui Deklarasi Manokwari 2018 menyampaikan visi bersama Tanah Papua yaitu Tanah Papua Damai, Berkelanjutan, Lestari dan Bermartabat. Bahkan Provinsi Papua Barat disebut provinsi pertama di dunia yang menyatakan diri sebagai provinsi konservasi karena menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan dalam strategi pembangunan daerahnya. Salah satunya pengembangan sektor pariwisata melalui ekowisata di Papua Barat merupakan upaya yang dilakukan masyarakat dan pemerintah untuk mencegah deforestasi sambil menerima manfaat ekonomi.

Being an eco traveler

Tanah Papua memiliki beberapa destinasi ekowisata yang diminati wisatawan. Diantaranya adalah wisata pengamatan burung di Pegunungan Arfak dan Kampung Malagufuk, wisata bahari di Raja Ampat, wisata mangrove di Teluk Bintuni, wisata budaya dan pendakian gunung di Kaimana, wisata danau di Paniai, seni ukir di Asmat, festival Lembah Baliem di Jayawijaya, atau Teluk Sarawandori di Kepulauan Yapen. Ekowisata tersebut merupakan sumber kehidupan orang asli Papua (OAP) dan dengan mengelola ekowisata tersebut masyarakat dapat menjaga dan mempertahankan hak dan wilayahnya.

Yayasan Econusa sebagai organisasi nirlaba yang mendukung pengembangan ekowisata di Papua dan Papua Barat dalam mewujudkan prinsip pembangunan berkelanjutan, melihat perlunya penyebaran informasi ekowisata di Tanah Papua kepada anak muda khususnya yang memiliki hobi traveling . Bekerjasama dengan London School Institute, Yayasan Econusa menggagas diskusi online bertajuk “Tren Liburan Ekowisata setelah Covid-19” Diskusi ini diharapkan dapat membuka wawasan anak muda Indonesia, bahwa ekowisata tidak hanya dapat memanjakan mata tapi juga dapat berkontribusi terhadap konservasi alam dan ekonomi masyarakat lokal. Dan Tanah Papua memiliki segudang destinasi ekowisata yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Yayasan EcoNusa bekerjasama dengan Mr & Ms LSPR, LSPR 4C, dan Bhamahira LSPR mengadakan webinar berjudul “Being an Eco Traveler, Responsible to Nature Through Ecotourism: Pentingnya Menjaga Keanekaragaman Hayati Tanah Papua Melalui Ekowisata ”dan mengajak para generasi muda untuk bijak saat berwisata serta mengenal lebih jauh tentang ekowisata dan praktik ekowisata di Tanah Papua.

Webinar menghadirkan narasumber:
– Arie S Suhandi, Founder of INDECON (Indonesian Ecotourism Network)
– Aloysius Numberi, Program Associate Pengelolaan SDA EcoNusa

Moderator:
Jeni Karay, Commodity Ambassador of Papua & West Papua

Facebook Comments

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *