Dikelilingi oleh keluarga yang punya profesi pengajar, membuat saya begitu familiar dengan buku. Dimana-mana di rumah kami, selalu saja ada satu elemen yang bisa kamu temui di ruangan mana saja. Yaitu buku. Sebelum papa ditugaskan menjadi dosen, papa adalah pegawai litbang di salah satu yayasan terbesar di Papua yang mengurus tentang gereja dan misionaris. Setiap papa pulang dari kantor, banyak sekali berbagai brosur, leaf leat dan buletin kecil yang dibawanya dari kantor. Saya slalu tertarik dengan sampul dan gambar-gambar yang terdapat didalamnya.

Ketika saya berumur empat tahun, mama sedang melanjutkan studi keguruannya di salah satu universitas terbesar di jayapura. Buku catatan mama menjadi buku yang menarik untuk ku corat-coret dengan pulpen warna-warni. Akhir adegannya selalu sama. Saya diteriakin karna bukan saja mencoret buku catatan kuliah mama, tapi juga buku resep masakan, majalah adi busana, buku pelajaran SD kakak saya pun menjadi korban betapa serunya saya menjelajahi huruf, angka, dan gambar.

Buku bagi saya adalah unsur yang tidak bisa lepas dari keseharian. Kalau sebulan tidak baca buku baru, rasanya ada yang kurang. Pekerjaan saya sebelumnya juga kebanyakan berkeliling dari satu daerah ke daerah lain alias lebih banyak di atas pesawat daripada di darat. Dalam jam penerbangan yang panjang, buku menjadi teman seperjalanan yang harus ada di dalam tas punggung saya. Tak jarang juga ketika akhir pekan saya harus lembur sehingga tidak dapat pergi kemana-mana bersama teman dan sahabat. Di titik itu buku menjadi pintu pelepas kejenuhan yang bisa membawa saya pergi sementara di dimensi lain. Ibaratnya saya punya dunia sendiri ketika terhanyut dalam sebuah buku.

Bukan saja sebagai teman, pintu exit sesaat, tapi juga sebagai kekasih yang selalu saya pilih ketika menghabiskan akhir pekan (hidup wanita single kece!). Jadi, buku bukan hanya sebagai pajangan biar terkesan instagramable tapi benar-benar dihisap sari-sari dari buku itu. Capek lho megang buku 300 lembar dengan jenis kertas HVS kemana-mana kalau motivasinya hanya untuk terlihat keren atau kece.

Ketika skarang mengerjakan tesis, saya semakin menyadari betapa pentingnya seseorang harus membaca buku. Dalam pengerjaannya, ada beberapa jurnal yang harus saya baca lebih dari sekali untuk memahami bagaimana seorang peneliti mengambil data, menjelaskan runtut penelitian hingga akhirnya diproses menjadi hasil penelitian. Ada beberapa jurnal yang awalnya bagi saya tidak begitu menarik. Tapi ketika dibaca kembali, ternyata beberapa hal yang saya cari malahan ada di dalam jurnal itu.

Membaca itu ibaratnya menambang. Buku adalah ladang tambang luas yang siap menunggu kita, para penambang untuk mengelolanya. Semakin dalam kita membaca, semakin banyak hal yang akan kita dapatkan dari buku itu. Tidak peduli itu novel, majalah, artikel atau koran. Karna dalam setiap deretan tulisan selalu ada cipratan ide manusia yang tersirat. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak pula berbagai hal yang akan merangsang ide, memberikan pencerahan ataupun bekal untuk mengatasi sebuah situasi bila di kemudian hari dialami oleh diri kita sendiri.

Di sisi lain, membaca memberikan saya banyak sekali peluang seru untuk pergi ke berbagai tempat (bahkan yang tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan ada di tempat itu) dan bertemu dengan berbagai orang. Hanya dengan membaca buku. Dengan membacalah saya bisa belajar otodidak tentang berbagai keahlian yang tidak akan bisa saya dalami ketika berada di bangku pendidikan formal. Seru kan? Yuk sisakan waktumu untuk bangun kebiasaan membaca secara mandiri.

Mau jadi pemimpin masa depan? Ayok mulai bangun kebiasaan untuk membaca buku. Mau jadi pacar idaman atau mantu idaman? Bacalah berbagai buku. Mau jadi orang yang terkenal dan sukses? Baca buku deh. Karna tidak ada satupun buku yang percuma atau sia-sia dibaca.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *