Jeni Karay: Menabur Ilmu di Ujung Papua Barat Daya, Dedikasi Tanpa Batas Sang Edukator
DISTRIK SEGET – Matahari baru saja menyapa Bandara Internasional Sentani ketika Jeni Karay, atau yang akrab disapa Kak Jen, bersiap memulai perjalanan panjangnya [00:30]. Bukan sekadar pelesir, perjalanan kali ini adalah sebuah misi pendidikan menuju Distrik Seget, sebuah wilayah terpencil di Papua Barat Daya yang membutuhkan waktu tempuh berjam-jam melintasi udara, darat, hingga laut.
Bagi Jeni, tantangan geografis Papua bukanlah penghalang, melainkan bagian dari napas hidupnya. Sebagai seorang trainer public speaking tersertifikasi BNSP, ia membawa misi penting: memberdayakan masyarakat lokal melalui kemampuan berkomunikasi.
Menembus Lumpur Demi Edukasi
Perjalanan menuju Seget bukanlah perkara mudah. Setelah terbang dari Jayapura dan transit di Manokwari, Jeni harus menghadapi jalur darat yang ekstrem. “Kalau cuacanya hujan, trip bisa jadi 4 jam hanya karena lumpur,” ungkapnya [01:00]. Benar saja, ia harus membelah perkebunan sawit dengan kendaraan khusus yang berguncang hebat di atas jalanan yang 80% berupa lumpur [08:31].
Namun, di tengah guncangan hebat itu, Jeni justru melakukan refleksi mendalam. Baginya, kelelahan fisik adalah harga kecil yang harus dibayar demi kemajuan tanah kelahirannya.
“Ini sudah yang bisa saya kontribusikan untuk tanah Papua. Kita mau tunggu siapa lagi yang mau memberdayakan masyarakat kalau bukan anak Papua itu sendiri?” tuturnya dengan penuh keyakinan [09:20].
Peran sebagai Edukator: Melampaui Kata-Kata

Tiba di kompleks Pertamina Kilang Internasional RU7 Kasim, Distrik Seget, Jeni langsung beraksi [10:09]. Kehadirannya di sana adalah untuk memberikan pelatihan public speaking dan personal branding bagi para staf.


Di dalam kelas, Jeni menunjukkan kelasnya sebagai edukator yang inklusif. Ia mampu mencairkan suasana sehingga tidak ada batasan antara senior dan junior [14:41]. Fokusnya bukan hanya mengajarkan cara bicara yang baik, tetapi bagaimana setiap individu di pelosok Papua mampu merepresentasikan diri mereka dengan percaya diri di tingkat nasional [15:19].
Bagi Jeni, mengajar adalah bentuk pelayanan atau “ministry” [09:52]. Ia percaya bahwa nutrisi dan berkat yang telah ia terima dari tanah Papua harus dikembalikan dalam bentuk pemberdayaan generasi.
Dedikasi yang Tak Pernah Padam
Meski jadwalnya sangat padat hingga ia hanya memiliki waktu singkat di setiap lokasi, semangat Jeni tidak pernah luntur [18:52]. Setelah menuntaskan tugasnya di Seget, ia kembali menempuh jalur laut selama 1,5 jam menuju Sorong untuk melanjutkan misi berikutnya di kabupaten lain [18:24].
Sosok Jeni Karay adalah bukti nyata bahwa pembangunan di tanah Papua tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan manusia. Melalui setiap kata yang diajarkannya dan setiap langkah di jalanan berlumpur yang ia lalui, Jeni sedang merajut masa depan Papua yang lebih cerah—satu demi satu distrik.
“Sudah saatnya kita kembali untuk menabur lagi, memberkati tanah ini, dan membangun generasinya,” pungkasnya sebelum menutup perjalanan di ujung Papua Barat Daya tersebut [09:34].
Tonton perjalanan lengkap Jeni Karay di sini: https://www.youtube.com/watch?v=W5p91UyChGY
- 27 Januari: Tentang Pertumbuhan, Suara, dan Hati yang Memilih

- Jeni Karay: Menabur Ilmu di Ujung Papua Barat Daya, Dedikasi Tanpa Batas Sang Edukator

- Surat untuk Diriku yang Dulu: Ternyata Semua Tak Seseram Itu

- Akhirnya Mendarat di Jayapura! Hotway’s Chicken: Spot Baru Buat Kamu yang Hobi Pedas dan Keju

- Tugas II Kepemimpinan & Ketrampilan Interpersonal – Membedah DNA Pemimpin dan Komunikator Andal di Dunia Teknologi


