Konsisten
Dulu saya sempat bekerja dalam dunia NGO sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya ke strata yang lebih tinggi. Ada satu kata yang paling saya ingat. Kata ini adalah kata yang selalu menjadi tolak ukur apakah program yang dilakukan bernilai, berdampak atau bisakah dilanjutkan. Berkelanjutan atau sustainibility. Bila programnya hanya berdurasi jangka pendek, manfaatnya tidak dapat dirasakan secara menyeluruh oleh suatu masyarakat di daerah tertentu. Bila program itu terus berjalan lebih dari dua, tiga, lima tahun maka dampak yang dilihat juga semakin jelas.
Untuk membuat sebuah program atau kegiatan menjadi berkelanjutan, konsisten menjadi kata kunci penting yang mendukungnya. Bila pendampingan tidak secara konsisten yang dilakukan ke masyarakat, masyarakat pun tidak akan mau percaya kepada officer yang bertugas. Bila dana yang digelontorkan tidak konsisten, program pun akan hidup segan mati tak mampu kata keren pepatahnya.

Pola ini juga sama dalam menjalani kehidupan. Konsisten menjadi fondasi untuk menunjukkan apakah kita serius untuk mengejar sesuatu. Konsisten juga bisa diterapkan dalam segala bidang kehidupan. Dalam sisi negatif maupun positif. Mau nunjukin kamu serius tentang sesuatu? Konsisten lah! Mau kamu mencapai impianmu? Konsisten lah! Karna hanya dengan terus konsisten, kamu bisa mencapai impianmu.
Bagi saya konsisten adalah tindakan yang bisa kamu lakukan tanpa harus ngomong banyak karna orang lain akan melihat buah dari tindakanmu itu.
Oh iya, buat yang belum ngeh apa itu konsisten, ini ada pengertian dari KBBI online:
konsisten/kon·sis·ten/ /konsistén/ a 1 tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; ajek; 2 selaras; sesuai: perbuatan hendaknya — dengan ucapan
Lawannya konsisten adalah inkonsisten. Dimana perkataan dan perbuatan tidak selaras. Familiar kan skarang? So, kamu bakal pilih yang mana. Konsisten yang berujung pada pencapaian tujuan, atau inkonsistensi yang berujung pada stagnansi?


