27 Januari: Tentang Pertumbuhan, Suara, dan Hati yang Memilih

Setiap tanggal 27 Januari, ada sebuah ritual tak tertulis yang selalu saya jalani: diam sejenak, menarik napas panjang, dan menoleh ke belakang. Bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan untuk melihat sejauh mana kaki ini telah melangkah, melompati lumpur-lumpur tantangan, dan mendaki bukit-bukit harapan.
Tahun ini, satu kalimat yang terus berdengung di kepala saya adalah: Saya memilih untuk tetap menjadi pribadi yang manis dan menolak untuk menjadi pahit oleh keadaan.
Menolak Pahit, Memeluk Tumbuh
Kita semua tahu, hidup tidak selalu memberikan skenario yang kita inginkan. Ada hari-hari yang melelahkan—seperti perjalanan 5 jam membelah hutan menuju Distrik Seget—dan ada masa-masa di mana keadaan seolah menekan kita untuk menyerah pada rasa kecewa. Dunia seringkali memberi kita alasan untuk menjadi sinis, dingin, atau “pahit”.
Namun, di usia baru ini, saya menyadari bahwa menjadi “manis” bukan berarti naif. Menjadi manis adalah sebuah keberanian. Keberanian untuk tetap memiliki hati yang lembut meski pernah disakiti, dan keberanian untuk tetap optimis meski realita sedang tidak berpihak.
Saya bersyukur kepada Tuhan untuk setiap “ruang bertumbuh”. Ruang itu tidak selalu berupa panggung besar yang megah; kadang ia berupa kegagalan yang memaksa saya belajar lagi, atau teguran yang membuat saya lebih bijak.
Suara yang Masih Bergema
Sebagai seorang komunikator, hal yang paling saya syukuri adalah “suara yang masih bisa bergema”. Bukan sekadar suara fisik, tetapi pengaruh (influence) yang Tuhan percayakan untuk memberdayakan sesama, terutama di tanah Papua yang saya cintai.
Melalui podcast “Unlock Your Voice” maupun kelas-kelas public speaking, saya belajar bahwa suara kita hanya akan punya daya jika ia lahir dari hati yang terus belajar bersyukur. Hati yang bersyukur adalah magnet bagi energi positif. Itulah yang membuat suara kita tidak hanya terdengar, tapi juga terasa.
Melangkah Menuju Dampak (More Impact)
Cheers to more growth, more love, and more impact! Usia bagi saya bukan sekadar angka yang bertambah, tapi kapasitas yang meluas. Saya ingin mencintai lebih dalam, belajar lebih tekun, dan memberi dampak yang lebih nyata bagi generasi di sekitar saya. Saya ingin energi positif yang saya bagikan melalui tulisan, video, maupun kelas-kelas pelatihan, bisa kembali kepada kalian semua—para pembaca setia dan sahabat—berkali-kali lipat.
Terima kasih untuk semua dukungan, kiriman doa, dan cinta yang memenuhi ruang pesan saya hari ini. Kalian adalah bahan bakar yang menjaga nyala semangat saya tetap terang.
Mari kita lanjutkan perjalanan ini. Dengan hati yang manis, dengan jiwa yang berani, dan dengan keyakinan bahwa yang terbaik masih akan datang.
Apa satu hal yang paling membuat kalian bersyukur di bulan Januari ini? Tulis di kolom komentar ya!
Happy Birthday to me, and may the same light shine on you too!
- 27 Januari: Tentang Pertumbuhan, Suara, dan Hati yang Memilih

- Jeni Karay: Menabur Ilmu di Ujung Papua Barat Daya, Dedikasi Tanpa Batas Sang Edukator

- Surat untuk Diriku yang Dulu: Ternyata Semua Tak Seseram Itu

- Akhirnya Mendarat di Jayapura! Hotway’s Chicken: Spot Baru Buat Kamu yang Hobi Pedas dan Keju

- Tugas II Kepemimpinan & Ketrampilan Interpersonal – Membedah DNA Pemimpin dan Komunikator Andal di Dunia Teknologi


